Sunday, March 22, 2015

Suhu minimun dalam budidaya tanaman

Suhu didifinisikan sebagai derajat panas atau dingin yang diukur berdasarkan skala yang tertentu dengan menggunakan berbagai tipe thermometer. Secara umum, pertumbuhan tanaman dapat berlangsung kisaran suhu minimum 4,5 oC hingga suhu maksimum 36oC. Namun, untuk memungkinkan tanaman melangsungkan fotosintesis dengan laju maksimum dan respirasi yang normal, tanaman menghendaki kisaran suhu yang disebut suhu optimum. Besarnya kisaran suhu optimum ini bervariasi, tergantung pada spesies dan tahap perkembangan tanaman. Oleh karena tanaman memiliki laju fotosintesa yang tinggi bersamaan dengan berlangsungnya respirasi yang normal dalam kisaran suhu yang berbeda, maka tanaman hortikultura dapat digolongkan sebagai berikut:


  • Tanaman daerah dingin (subtropis), yaitu tanaman yang memberikan hasil maksimum pada kisaran suhu yang relative rendah
  • Tanaman daerah panas (tropis), yaitu tanaman yang memberikan hasil maksimum pada kisaran suhu yan relative tinggi.

Berbagai proses pertumbuhan tanaman memperlihatkan adanya hubungan yang bersifat kuantitatif dengan suhu, misalnya respirasi, sebagian reaksi pada fotosintesa serta berbagai fenomena pendewasaan dan penuaan. Proses-proses seperti dormansi, pembungaan dan pembentukan buah juga sangat tergantung pada suhu. Akan tetapi, sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, kisaran suhu optimum untuk pertumbuhan tanaman tergantung pada spesies dan/atau kultivar serta tahap-tahap fisiologis tertentu dari proses pertumbuhan. Tanaman yang dipelihara di bawah kondisi suhu seragam dan konstan tidak akan tumbuh dan berbuah secepat tanaman yang ditumbuhkan di bawah kondisi suhu siang dan malam yang berbeda. Kebanyakan tanaman menghendaki suhu malam hari yang lebih rendah daripada malam hari.

Macam-macam cara pengomposan?

 langkah-langkah pengomposan dapat secara fabrikasi, alami, manual maupun modern.
1) Pengkomposan secara alami
Pengkomposan ini tidak perlu melalui proses, karena tumpukan sampah sudah mengalami proses pembusukan dan penghancuran selama beberapa lama di alam terbuka. Tanah bekas timbunan sampah yang sudah berlangsung lama, kira-kira sudah lebih dari setahun digali. Sampah yang sudah menyerupai tanah, dipisahkan dari bahan-bahan lain yang tidak bisa lapuk, seperti pecahan kaca, dan lembaran plastic. Selanjutnya tanah sampah dijemuk hingga kering,. Hasilnya adalah berupa pupuk kompos yang siap pakai.

2) Pengkomposan secara manual
Sampah garbage, kotoran dan air kencing ternak merupakan bahan dasar pembuatan kompos. Sebagai pemacu proses pengkomposan perlu disiapkan pupuk urea dan pupuk P serta abu dapur. Abu dapur berfungsi untuk menetralisasi terjadinya keasaman selama berlangsungnya proses pengkomposan. Selanjutnya campuran jerami dan sampah ditimbun dalam bedengan berukuran 2,5 x 2,5 m sampai setinggi 25 cm. Di atasnya ditimbun campuran kotoran dan air kencing. Demikian seterusnya sampai setinggi 1,5 m, dan pada lapisan atas ditaburi abu setebal 10 cm. Pada hari ke 15, campuran dibolak-balik, dan diulang pada saat umur pengkomposan 30 hari dan 60 hari. Biasanya setelah diproses selama 3 bula, kompos sudah matang dan bisa segera dimanfaatkan.

3) Pengkomposan secara modern dengan mikroorganisme
Bahan organic yang dapat dimanfaatkan oleh mikroorganisme untuk menghasilkan kompos banyak ragamnya, antara lain dedak padi, dedak jagung, sekam padi, kulit kacang, jerami, ampas kelapa, rumput, serbuk gergaji, . Diantara bahan0bahan tersebut, dedak padi sangat dianjurkan untuk digunakan, karena bahan tersebut mengandung gizi yang sangat baik untuk mikroorganisme.

Mikroorganisme yang bermanfaat dalam meningkatkan kualitas tanah adalah bakteri fotosintetik, bakteri asam laktat, ragi, actinomycetes, dan jamur pergian,
Mikroorganisme membutuhkan fosfor (P) untuk pertumbuhan dan perkembangbiakannya. Nisbah C/P yang diinginkan adalah 75-150. Dedaunan, residu berkayu dan pangkasan rumput biasanya berkadar P rendah. Batuan fosfat dan kotoran ayam merupakan sumber P yang baik. Untuk setiap meter kubik limbah berkayu diperlukan 0,5 kg batuan fosfat atau 7 kg kotoran ayam. Sumber P terbaik adalah pupuk TSP yang mengandung 48% P.
 
Bahan-bahan akan didekomposisikan lebih cepat bila dipotong-potong dalam ukuran 5-10 cm. Bila menggunakan rumput laut sebagai bahan terlebih dahulu dicuci untuk menghilangkan kelebihan garam. Untuk limbah serbuk gergaji, serutan kayu, dan lain-lain(nisbah C/N 80) tambahkan 1-2 kg Urea per meter kubik untuk menetralkan produk

a) Kelembaban
Bahan kompos yang kelembannya lebih kecil dari 40% tidak akan cepat terdekomposisi. Sebaliknya bahan yang kelembabannya lebih besar 60% memberikan suasana reaksi anaerob (tidak ada oksigen), menghasilkan bau busuk dan lambat terdekomposisi. Idealnya kelembaban berkisar antara 50-55%.
Bahan yang kering diberi air hingga kelembaban mencapai 50-55%. Untuk mempertahankan kelembaban timbunan kompos, pemberian air sewaktu-waktu pada cuaca panas perlu diberikan

b) Mikroorgnisme
Ratusan spesies mikroorganisme, kebanyakan bakteri, jamur dan aktinomisetes (cabang bakteri) terlihat pada dekomposisi bahan organic dalam timbunan kompos. Mikroorganisme ini ditemukan secara alami dalam kompos, bahan organic, dan tanah. Mikroorganisme segera bekerja pada saat kelembaban dan konsentrasi oksigen menguntungkan.

Sebenarnya untuk mempercepat pengkomposan tdak diperlukan tambahan khusus (inokulan) jamur, bakteri dan emzim, apabila Nisbah C/N, kelembaban. Dan aerasi dalam kondisi ideal sehingga dekomposisi dapat berjalan secara sempurna kecuali untuk serbuk gergaji dan ganggang laut yang tidak banyak mengandung mikroorganisme.

c) Oksigen
Bahan organic akan lebih cepat didekomposikan oleh mikroorganisme arobis yaitu mikroorganisme yang membutuhkan oksigen. Bila tidak cukup tersedia oksigen timbunan, mikroorganisme anaerob memegang peranan dan menghasilkan produk yang buruk, yang ditandai oleh bau busuk, pH rendah, yang dapat menjadi racun bagi tanaman.
Aerasi yang baik sangat penting untuk memperoleh produk akhir kompos yang dapat digunakan secepat mungkin. Pembalikan timbunan memungkinkan lebih banyak oksigen yang tersedia dan membantu mempercepat dekomposisi.

Pentingnya faktor cahaya dalam budidaya tanaman

Ada tiga factor cahaya yang penting yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman, yaitu : 1) intensitas, 2) kualitas, 3) fotoperiodesitas.
Intensitas cahaya berkaitan dengan keadaan dimana cahaya berada dalam jumlah yang memungkinkan tanaman untuk berfotosintesis
Kualitas cahaya merujuk pada komposisi panjang gelombang yang dapat mempengaruhi tanaman untuk melangsungkan metabolisme terutama fotosintesis.
Fotoperiodesitas adalah lama waktu memicu terjadinya fotosintesis. Jadi pada prinsipnya peran factor cahaya dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman adalah berkaitan dengan keberlangsungan proses fotosintesa di dalam tanaman bersangkutan.
 
Pengaruh intensitas cahaya
Berdasarkan kebutuhannya akan intensitas cahaya optimum, tanaman dapat dikelompokan menjadi:
  • Tanaman yang menghendaki intensitas cahaya matahari rendah tanaman tersebut ditanam perlu dinaungi contoh : anggrek, tanaman hias anterium, temu-temuan (jahe, kunyi dll)
  • Tanaman yang menghendaki intensitas cahaya matahari sedang tanaman setengah naungan contoh : temu-temuan ( jahe , kunyi dll), kopi
  • Tanaman yang menghendaki intensitas cahaya matahari tinggi tanaman cahaya penuh contoh : jagung, karet, kelapa dll
  • Tanaman yang tumbuh dengan baik pada segala kondisi intensitas cahaya matahari tanaman cahaya dan naungan, contoh: sawi,

Tanaman yang tumbuh di bawah kondisi tanpa cahaya, tetapi memperoleh suplai makanan dari organ penyimpanan (misalnya biji atau umbi) akan bewarna kuning dan tumbuh memanjang dengan batang lemah. Ekspresi morfologis dari kekurangan cahaya disebut etiolasi

 Pengaruh Kualitas Cahaya
Komposisi cahaya dapat mempengaruhi laju pertumbuhan tanaman, yang dapat dilihat dari berat kering tanaman serta fase-fase vegetative-reproduktifnya. Dalam kaitannya dengan fase vegetative-reproduktif, terdapat hubungan antara cahaya merah (red) dan cahaya merah-jauh (far-red). Pada umumnya cahaya merah berpengaruh meningkatkan perkecambahan benih, pertumbuhan kecambah pada sejumlah spesies, dan meningkatkan pembentukan primordia bunga pada tanaman hari panjang.
 
Pengaruh lama cahaya
Cahaya juga mempengaruhi berbagai proses tanaman yang lain, seperti perkecambahan, pembentukan umbi, pembungaan dan ekspresi kelamin. Pengaruh cahaya terhadap perkembangan tanaman seringkali berkaitan erat dengan lama periode cahaya dan periode gelap, atau yang disebut fotoperiodesitas.

Pada umumnya, semakin lama periode cahaya (asalkan factor-faktor lain dalam keadaan optimum), maka semakin banyak karbohidrat yang dibentuk pada fotosintesa, dan semakin pendek periode malamnya semakin sedikit karbohidrat yang digunakan untuk respirasi. Sebagai contoh, stroberi yang ditanama pada musim panas di daerah beriklim sedang memberikan hasil yang lebih besar dengan rasa buah yang lebih manis dengan aroma yang lebih baik dibandingkan stroberi yang dihasilkan di daerah tropic yang panjang hari dan panjang malam relative sama.

Periode cahaya juga menentukan inisiasi pembentukan kuncup bunga. Tanaman yang menghendaki periode cahaya lebih panjang (14-16 jam per hari) daripada periode gelap untuk inisiasi pembentukan bunganya disebut tanaman hari panjang, sedangkan tanaman yang menghendaki lama cahaya lebih pendek (8-10 jam per hari) daripada periode gelap disebut tanaman hari pendek. Sementara itu, tanaman yang pembungaannya tidak dipengaruhi oleh panjang hari disebut tanaman hari pendek.

Bila tanaman hari pendek ditanam di bawah kondisi hari panjang, maka akan terbentuk karbohidrat dan protein dalam jumlah yang besar, yang kemudian digunakan untuk pertumbuhan dan perkembangan batang, daun, dan akar. Oleh karena itu, pada tanaman tersebut pertumbuhan fase vegetatifnya lebih dominan serta tidak berbungan dan berbuah. Sebaliknya, tanaman hari panjang bila dibudidayakan di bawah kondisi hari pendek, maka kadar karbohidrat dan protein yang terbentuk akan sedikit karena kekurangan cahaya sehingga pertumbuhan vegetatifnya akan lemah dan juga tidak berbunga. Sesungguhnya banyak aspek lain (selain pembungaan) dari pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang dipengaruhi oleh fotoperiodesitas, misalnya pembentukan umbi pada kentang, dahlia, dan singkong, serta perbanyakan vegetative alami pada stroberi dan cocor bebek (Bryophyllum).

Thursday, March 19, 2015

Menyambung Pucuk tanaman kakao

Menyiapkan batang bawah
Untuk keperluan penyambungan, terlebih dahulu kita harus menyediakan batang bawah. Batang bawah inilah yang kelak akan disambung dengan entres dari pohon yang kita kehendaki. Batang bawah ini bisa diperoleh dengan menyemai benih yang unggul dalam perakarannya seperti tahan terhadap serangan penyakit akar dan sistem perakaran yang kuat. Umur batang bawah untuk dapat disambung adalah 4-6 bulan dimana batang masih berwarna hijau.

Menyiapkan entres
Batang atas dari bibit sambungadalah entres, yakni cabang yang diambil dari bagian pucuk pohon induk. Agar hasil sambungan memuaskan tentu saja entres ini harus diambil dari pohon induk yang telah diketahui silsilahnya, tingkat pertumbuhan, tahan terhadap penyakit percabangan serta kualitas dan kuantitas buahnya. Entres harus diperoleh dar cabang yang umurnya sama dengan umur batang bawah. Entres yang memenuhi syarat adalah berwarna hijau kelabu atau kecoklatan.

Cabang entres yang sudah kita pilih dipotong pada waktu pagi hari. Jumlah cabang yang dipotong harus disesuaikan dengan jumlah sambungan yang dapat dilakukan dalam satu hari. Bila cabang entres akan dibawa ke tempat yang jauh, maka perlu mendapat perlakuan khusus. Caranya dengan mengikat cabang-cabang yang telah dipotong menjadi satu, lalu dibungkus dengan pelepah pisang yang rapat. Apabila dalam jumlah banyak dapat dibungkus dengan lumut sphagnum, atau serbuk gergaji lalu dimasukan ke dalam peti kayu dan disimpan di tempat yang terlindung dan sejuk.

Waktu menyambung
Faktor-faktor iklim mempengaruhi aktivitas tumbuh tanaman, sehingga dapat mempengaruhi hasil sambungan. Faktor-faktor tersebut adalah suhu dan curah hujan.Suhu udara berpengaruh terhadap pembentukan sel-sel parenkim penyusun jaringan kalus yang terbentuk akibat adanya perlukaan (irisan). Suhu optimum untuk penyambungan adalah 27-29°C. Waktu yang tepat untuk melakukan sambungan adalah awal musim hujan dan kegiatan sebaiknya dilakukan pukul 7.00 – 10.00 saat matahari belum bersinar terik.

Tahapan menyambung pucuk
  • Pada ketinggian 10 – 30 cm dari leher akar batang bawah dipotong. Permukaan batang yang telah dipotong ini lalu dibelah menjadi dua bagian yang sama besar. Panjang belahan ini 2 – 5 cm.
  • Entres yang sudah disiapkan dipotong, sehingga panjangnya antara 7,5-10 cm. Bagian pangkal disayat pada kedua sisinya sepanjang 2-2,5 cm, sehingga bentuk irisannya seperti mata kapak
  • Entres yang sudah disiapkan selanjutnya dimasukkan ke dalam belahan batang bawah. Langkah ini harus dilakukan secara hati-hati. Pokok keberhasilan dalam sambungan adalah pada saat menyisipkan entres. Pada waktu memasukkan entres ke belahan batang bawah perlu diperhatikan agar kambium entres bisa bersentuhan dengan kambium batang bawah
  • Entres yang sudah disiapkan selanjutnya dimasukkan ke dalam belahan batang bawah. Langkah ini harus dilakukan secara hati-hati. Pokok keberhasilan dalam sambungan adalah pada saat menyisipkan entres. Pada waktu memasukkan entres ke belahan batang bawah perlu diperhatikan agar kambium entres bisa bersentuhan dengan kambium batang bawah.

Setelah kurang lebih 3 minggu dari waktu pengikatan, kini tiba saatnya melakukan pemeriksaan berhasil-tidaknya sambungan. Sambungan yang berhasil akan tumbuh tunas sedangkan yang gagal akan berwarna hitam dan kering. Pada saat ini sungkup plastiknya sudah bisa dibuka. Namun, pita pengikat sambungan baru boleh dibuka 3-4 minggu kemudian. Untuk selanjutnya kita tinggal merawat sampai bibit siap dipindah ke kebun.

Perkecambahankakao dengan karung goni dan Menyapih Bibit kakao

Perkecambahan dengan karung goni
Tanah bedengan diratakan dan dibersihkan dari gulma, Selanjutnya di atas tanah bedengan diletakkan satu lapis bata merah untuk menjamin drainase yang baik. Bedengan dibuat membujur utara-selatan dan ukurannya disesuaikan dengan kebutuhan. Bedengan juga diberi atap. Media perkecambahan berupa satu lapis karung goni yang dihamparkan pada lapisan bata merah. Sebelum benih disemai, karung disiram air sampai jenuh. Benih kakao disusun merata di atas media goni dengan jarak 2 x 3 cm. Setelah selesai disusun, benih ditutup lagi dengan satu lembar karung goni. Karung tersebut sebelumnya dicelupkan ke dalam larutan fungisida. Penyiraman dilakukan pada pagi dan sore hari sampai media persemaian benih cukup basah.

Empat hari kemudian karung dibuka. Benih-benih yang telah berkecambah segera dipindahkan ke polibag dan ditanam di tempat pembibitan. Pemindahan benih ini dapat dilakukan dua kali sehari. Sisa benih ditutup lagi dengan karung goni dan disiram air pada pagi dan sore. Pemeriksaan benih yang berkecambah dilakukan setiap hari sampai hari ke-12. Benih-benih yang sampai pada batas itu belum berkecambah, termasuk benih yang mutunya tidak baik

b) Menyapih Bibit
Benih yang tumbuh secara masal di bedeng perkecambahan biasanya tumbuh saling berdesakan karena rapatnya jarak penebaran benih. Oleh karena itu, kecambah harus segera dipindahkan ke media penyapihan agar pertumbuhannya dapat berlangsung baik.

Penyapihan bibit dilakukan di dalam polibag yang ditata di bedengan. Bedengan penyapihan dibuat dengan lebar 1,2 m, panjang bedengan disesuaikan dengan kebutuhan dan membujur dari utara ke selatan. Antara bedengan yang satu dengan lainnya diberi jarak 0,5 meter untuk drainaase sekaligus untuk jalan pemeliharaan. Selanjutnya bedengan diberi atap untuk mengurangi intensitas sinar matahari.

Media pembibitan dibuat dari campuran tanah lapisan atas (top soil) yang subur, pupuk kandang, dan pasir halus. Perbandingan ketiganya relatif beragam, tergantung pada berat dan ringannya tanah lapisan atas. Perbandingan yang lazim adalah 1:1:1 atau 2:1:1. Sebelum dicampur, setiap komponen diayak dan lolos ukuran lubang 1 cm.

Wadah media pembibitan yang lazim digunakan adalah polibag hitam berukuran 30 x 20 cm dan tebal 0,8 mm yang diberi lubang drainase sekitar 18 lubang per polibag. Polibag diisi media sampai batas 1 cm di bawah bibir polybag, yang selanjutnya disusun di bedengan pembibitan.
Kecambah ditanam di bagian tengah polibag, yakni di lubang yang dibuat dengan jari atau kayu. Saat penanaman, kecambah perlu dihindarkan dari kerusakan akar. Setelah ditanam, tanah di kanan dan kiri kecambah dipadatkan sedikit dengan jari.

Jika kulit benih yang ditanam belum dikupas, sering dijumpai kecambah tumbuh abnormal karena mengalami kesulitan membuka keping biji (kotiledon) yang terhambat oleh kulit biji (testa). Akibatnya, ujung tunas dari kecambah kakao (epikotil) tumbuh sangat lemah dan pertumbuhan selanjutnya tidak normal. Jumlah kecambah yang tampak seperti itu bisa mencapai sekitar 6%. Cara mengatasinya adalah membantu pembukaan kotiledon dengan cara membuang testa yang masih menempel di kotiledon yang telah terangkat ke permukaan tanah. Dengan cara itu abnor-malitas kecambah dapat ditekan sampai hanya tinggal 1%.


Tindakan pemeliharaan bibit yang diperlukan meliputi penyiraman, pemupukan, pengendalian hama dan penyakitserta pengendalian gulma.
Sampai berumur dua bulan, penyiraman dilakukan dua kali sehari pada pagi dan sore hari. Selanjutnya sampai berumur enam bulan, penyiraman dilakukan satu kali sehari. Tujuan

penyiraman adalah untuk menyediakan lengas yang cukup, sehingga perlu diperhatikan agar tidak terjadi pencucian hara. Karenanya, sebaiknya penyiraman dilakukan secukupnya, tidak kurang dan tidak lebih. Penyiraman dianjurkan menggunakan gembor atau sprayer yang memiliki ukuran atau takaran.

Bibit perlu dipupuk agar pertumbuhannya kuat. Jenis dan jumlah pupuk yang diberikan ditentukan oleh tingkat kesuburan media. Media yang menggunakan pupuk kandang atau kompos, lazimnya cukup dipupuk nitrogen yaitu dengan ZA 2 gram/bibit (sekitar 1 sendok teh) dan diberikan sekitar 5 cm di sekitar batang. Jika menggunakan Urea, dosisnya setengah dari dosis ZA tersebut. Pemberian pupuk dimulai satu bulan setelah kecambah ditanam. Segera setelah pupuk diberikan dilakukan penyiraman secukupnya.

Bibit perlu dilindungi dari serangan hama dan penyakit. Hama yang sering menyerang bibit kakao antara lain belalang, berbagai macam ulat, siput (bekicot), dan kutu. Hama bisa dikendalikan secara manual dan dapat juga dengan insektisida yang dianjurkan.

Penyakit yang sering menyerang bibit kakao adalah bermacam-macam jamur, seperti Fusarium, Phytophtora, dan Colletotrichum. Penyakit ini bisa dikendalikan dengan fungisida yang dianjurkan. Penyebaran serangan penyakit perlu dicegah dengan jalan memisahkan bibit yang terserang dan jika perlu memusnahkannya. Tindakan sanitasi bedengan dan sekitamya perlu selalu dilakukan agar tercipta lingkungan yang sehat.

Penyiangan tumbuhan penggangu bisa dilakukan secara manual, tetapi teratur. Gulma, baik yang tumbuh di dalam polibag maupun di luar harus dikendalikan.
Bentuk pemeliharaan yang lain berupa membuang (mewiwil) tunas-tunas samping yang kadang-kadang tumbuh dari ketiak daun pertama kecambah dari keping biji, Perlu diusahakan agar bibit hanya mempunyai satu tunas, sehingga pertumbuhannya lebih gigas dari pada bibit yang mempunyai dua tunas atau lebih.

Wednesday, March 18, 2015

Pembibitan kakao MengecambahkanBenih di bedengan

Pembibitan kakao
a) MengecambahkanBenih
Mengecambahkan benih merupakan kegiatan untuk menumbuhkan benih agar tumbuh menjadi kecambah. Benih dikatakan berkecambah jika sudah dapat dilihat plumula dan radikulanya keluar dari benih dan tumbuh normal dalam jangka waktu tertentu.
Adapun maksud dari perkecambahan benih adalah :
Untuk mengetahui daya kecambah benih.
  • Untuk memisahkan benih yang pertumbuhannya cepat dan baik dengan benih yang pertumbuhannya lambat dan jelek.
Untuk memperoleh pertumbuhan yang seragam.
Benih kakao termasuk golongan benih yang tidak mempunyai masa dormansi, sehingga setelah benih dikeluarkan dari polongnya harus segera dikecambahkan.

Perkecambahan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu perkecambahan di bedengan dan perkecambahan dengan karung goni.
 
Perkecambahan di Bedengan
Perkecambahan di bedengan dilaksanakan jika jumlah benih yang dikecambahkan cukup banyak. Bedengan perkecambahan dibuat di tanah yang datar. Setelah tanahnya dicangkul dan dibersihkan dari gulma, akar-akar pohon, dan batu, selanjutnya di atasnya diberi lapisan pasir halus setebal sekitar 15 cm. Lebar bedengan 0,80-1 m dan panjangnya sesuai dengan kebutuhan. Di bagian tepi bedengan diberi pembatas berupa bata merah atau papan agar pasir tidak hanyut oleh air siraman. Bedengan dibuat membujur dari utara ke selatan.

Bedengan diberi atap dari daun kelapa, daun tebu, atau alang-alang. Atap dibuat miring ke barat dengan ketinggian sebelah timur 1,5 m dan sebelah barat 1,20 m. Cara menanam benih di bedengan adalah bagian yang besar diletakkan di bawah. Bagian itu merupakan tempat keluamya calon akar. Benih dipendam 2/3 bagian benih, sehingga hanya sebagian kecil yang muncul di atas pasir. Benih disusun rapat dengan jarak antara alur 3 cm dan jarak dalam alur 1 cm, Selanjutnya benih ditutup dengan satu lapis karung goni yang telah dibasahi. Bedengan disiram pada pagi dan sore sampai lembab, serta dihindarkan dari binatang penggangu.

Setelah 4-5 hari, benih kakao mulai berkecambah dan dalam waktu 12 hari, sebagian besar benih telah berkecam-bah. Saat yang tepat untuk memindahkan kecambah ke kantong plastik adalah jika keping biji (kotiledon) mulai tersembul ke permukaan pasir. Pemindahan dikatakan terlambat jika hipokotil telah memanjang, apalagi jika kotiledon telah terbuka. Pencabutan kecambah dilakukan dengan solet, yaitu alat pencongkel yang terbuat dari bambu.

Pembiakan karet secara Okulasi

Ada dua cara okulasi pada tanaman karet yaitu okulasi coklat. dan okulasi hijau. Okulasi coklat, dilakukan bila bibit batang bawah telah berumur 9 -18 bulan. Kulit batangnya telah berwarna coklat. Entres (batang atas) juga berwarna coklat. Sedangkan okulasi hijau, dilakukan bila bibit batang bawah telah berumur sekitar 3-6 bulan. Biasanya ukuran batang sebesar pensildan berwarna hijau. Entres yang digunakan juga masih muda dan berwarna hijau.
 
 Peralatan
Alat-alat yang dibutuhkan dalam kegiatan okulasi adalah gergaji entres, pisau okulasi, pita plastik atau tali rafia, pelepah pisang, lilin cair, kuas,dan kain lap. Gergaji entres digunakan untuk memotong kayu batang atas, pisau okulasi untuk mengambil mata tunas dan menyayat batang bawah, pita plastik atau tali raffia untuk mengikat pertautan okulasi, pelepah pisang untuk menempatkan kayu okulasi, dan kain lap untuk membersihkan batang bawah dan pisau okulasi.

Waktu Okulasi
Faktor-faktor iklim mempengaruhi aktivitas tumbuh tanaman, sehingga dapat mempengaruhi hasil okulasi. Faktor-faktor tersebut adalah suhu dan curah hujan. Suhu optimum untuk okulasi adalah 27-29°C. Saat terbaik melakukan okulasi adalah pada awal musim hujan karena saat itu kelembapan tinggi. Tidak dianjurkan melakukan

okulasi pada pertengahan musim kemarau karena risiko kegagalannya sangat tinggi akibat udara yang kering dan panas. Sebaiknya kegiatan okulasi dilakukan pukul 07.00-10.00, saat matahari belum bersinar terik.
 
Tahapan melakukan okulasi
o Mengiris kulit batang bawah pada bagian kulit yang halus kurang lebih pada ketinggian 7-10 cm dari permukaan tanah dengan lebar sepertiga lingkaran batang dan panjangnya sekitar 5 cm. Dalam membuat irisan harus hati-hati, irisan tidak boleh terlalu dalam, kedalaman irisan yang baik adalah setebal kulit batang.

o Mengambil mata dengan cara penyayatan dimulai dari bawah mata tunas ke atas dengan panjang sayatan lebih-kurang 3 cm dari mata tunas. Sayatan dengan mengikut sertakan sebagian kayu dengan lebar 2 cm. Kayu diangkat dengan hati-hati dari ujung ke pangkal. Selanjutnya dibuat potongan mata okulasi dengan panjang 4 cm dan lebar 1,5 cm.

o Mata tunas yang kita peroleh kemudian sisipkan di bawah kulit batang pokok yang telah diiris tadi. Langkah ini harus kita lakukan secara hati-hati. Dalam penyisipan atau penempelan mata tunas jangan sampai ada kotoran yang menempel pada kambium, karena dapat mengganggu menyatunya penempelan.

Mata tempelam kemudian diikat menggunakan pita plastik atau tali rafia. Cara mengikat tempelan dari bawah ke atas. Yang perlu diperhatikan dalam pengikatan ini adalah bagian mata tempelan jangan diikat terlalu erat sehingga dapat mengakibatkan kerusakan pada mata tempelan.

o Setelah kurang lebih 2 minggu dari waktu pengikatan, okulasi sudah dapat dilakukan pemeriksaan berhasil-tidaknya pengokulasian. Ikatan kita buka, lalu mata tempelannya dilihat. Apabila warna mata tempelan itu telah menjadi hijau kemerahan atau hitam, ini berarti pengokulasian kita tidak berhasil atau mata tempelannya telah mati. Tetapi jika mata tempelan masih kelihatan hijau segar dan sudah melekat dengan batang pokok, ini pertanda bahwa okulasi berhasil.

o Bila telah ada kepastian bahwa mata tempelan sudah hidup, langkah selanjutnya adalah memotong batang pokok. Batang pokok langsung dipotong 1 cm di atas mata tempelan, dengan bentuk potongan miring ke balakang sehingga air hujan atau air siraman dapat jatuh ke bawah dan tidak akan tertampung pada tempelan mata. Pemotongan ini bertujuan agar mata tunas cepat tumbuh dan menjadi tunas. Luka bekas potongan sebaiknya langsung diolesi dengan menggunakan lilin atau ter untuk melindungi luka dari bakteri atau jamur.